Dapatkan $200 Dalam 1 Minggu
“Tips Meraih Paypal dari Pay Per Lead !
Dapatkan $1 setiap anda memberikan training clickbank secara GRATIS.
http://www.1shoppingcart.com/SYS/?m=154333&c=l
- Klik link di atas dan daftar gratis dengan memasukkan nama dan email
- Cek email anda dan klik link download training clickbank gratis
- Daftar sebagai affiliate, cek email anda untuk melihat data login
- Login ke affiliate area, dapatkan link referral anda di bagian Clickbank Giveaway
- Promosikan link referral anda dan dapatkan $1/member gratis.
- Minimal pembayaran $10 ke paypal setelah 30 hari.
- NOTES: Anda tidak perlu membeli produknya dan ingat jangan melakukan
kecurangan apapun. Daftar segera secara gratis di link berikiut:
http://www.pulsagram.com/?id=CN014676
http://www.komisiGRATIS.com/?id=goldclix
Contoh pendapatan saya dalam 1 minggu sbb:
Kepada setiap kepala keluarga, perhatikanlah kabar-kabar gembira yang
menunjukkan betapa besar nikmat Allah subhanahu wata’aala untukmu! Betapa
sempurnanya karunia dan pemberian yang dikaruniakan-Nya atasmu! Dia telah
mengaruniaimu keturunan yang dengannya dapat menghiasi kehidupanmu,
melapangkan dadamu dan memperbanyak keturunanmu, serta menambah pahalamu
kelak di akhirat.!
Kerasnya tantangan kehidupan dalam mencari rizki, beratnya beban tanggung
jawab yang melelahkan dan debu-debu tanah yang menempel seakan begitu berat,
tampak di wajahmu dalam perjuangan (jihad) terbesar dan ibadah paling mulia
bagimu itu. Karenanya, janganlah bersedih! Itu adalah Sunnatul Hayah
(tradisi kehidupan). Di situlah, kamu dicetak dan dengannya kamu diciptakan.
Namun bagi orang yang memahami syariat Allah subhanahu wata’aala, maka hal
itu menjadi demikian manis dan baik, sementara bagi orang yang menentang
syariat-Nya, maka itu menjadi kesengsaraan dan kesia-siaan.
Keutamaan Memberi Nafkah Keluarga
Hanya orang yang jiwa kelelakiannya telah terpatri dalam hatinyalah yang
dapat bersedih atas keluh-kesah keluarganya. Dan dalam hal ini, sama saja
antara seorang budak dan orang merdeka, seorang Mukmin dan orang kafir.
Hanya saja, seorang Mukmin yang tulus menjadikan jalan keluar atas
keluh-kesah keluarganya itu sebagai bagian dari ibadah kepada Allah
subhanahu wata’aala dan sebagai sarana mencari ganjaran dan pahala dariNya,
karena ia mengetahui bahwa Allah subhanahu wata’aala telah menjadikannya
pemimpin atas keluarganya dan telah memerinci mengenai hal itu dalam sebuah
firman-Nya melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam,
Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggung jawab atas orang
yang dipimpinnya. Seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarga di
rumahnya, dan ia bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya itu.”
(Muttafaqun ‘alaih).
Allah subhanahu wata’aala juga menjanjikan pahala yang agung baginya dan
keutamaan yang besar atas nafkah yang dikeluarkan dan perawatannya bagi
anak-anaknya. Dari Sa’d radhiallahu `anhu, bahwa Rasulullah shallallahu
alahi wasallam berkata kepadanya,”Sesungguhnya, sebesar apapun nafkah yang
engkau keluarkan atas keluargamu, maka engkau diberi pahala (atas hal itu),
sekali pun sesuap yang engkau sodorkan ke mulut isterimu.” (HR.al-Bukhari)
Dalam hadits yang lain, dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiallahu `anhu, ia berkata,
“Pernah suatu ketika, seorang laki-laki melintas di hadapan Nabi shallallahu
‘alahi wasallam, lalu para shahabat beliau melihat betapa keuletan dan
semangat orang itu, sehingga membuat mereka kagum, lalu mereka berkata,
Wahai Rasulullah, andaikata hal ini termasuk di jalan Allah subhanahu wata
aala.?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, ‘Jika ia
keluar untuk berusaha menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu
termasuk di jalan Allah subhanahu wata’aala. Dan jika ia keluar untuk
berusaha dengan penuh riya` dan kesombongan, maka itu termasuk di jalan
setan.” (Shahih al-Jami’, 2/8)
Dalam salah satu peperangan, pernah Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah
berkata kepada teman-temannya, “Tahukah kalian suatu amalan yang lebih utama
dari apa yang kita lakukan saat ini (berperang).?” Mereka menjawab, “Kami
tidak mengetahui hal itu.” Ia berkata, “Aku tahu itu.” Mereka mendesak, “Apa
itu.?” Ia menjawab, “Laki-laki suci yang memiliki tanggungan keluarga,
shalat di malam hari, lalu memandangi anak-anaknya yang sedang tidur dalam
keadaan aurat tersingkap, lalu ia menyelimuti dan menutupi mereka dengan
pakaiannya. Maka, amalannya itu adalah lebih utama dari kondisi kita ini.”
Bagi yang menjadi tulang punggung keluarga! Hendaknya bergembira karena
dijanjikan surga oleh Rasulullah subhanahu wata’aala, yakni selama kamu
berada di dalam Jihad Tarbiyah, saat kamu menanggung bebannya, bersabar atas
keletihan yang dirasakan dan berjuang melawan kesulitan-kesulitannya!
Bila kamu merasa permasalahanmu demikian pelik dan seakan membuat frustasi,
maka lihatlah karunia yang diberikan Allah subhanahu wata’aala kepadamu.
Ketika itu, pasti kamu akan merasakan kesabaran memenuhi seluruh
relung-relung hatimu, menghapus kesedihanmu, dan memantapkan langkahmu untuk
menempuh celah-celah Tarbiyah.
Ingatlah, terkadang para pesedekah mengeluarkan sedekahnya sekali dalam
setahun, atau sekali dalam sebulan. Tapi kamu? Dengan mendidik keluarga dan
mereka yang berada di bawah tanggunganmu, kamu adalah pesedekah abadi;
dengan harta, jiwa, kasih sayang dan kebapakanmu!
Dalam hadits yang diriwayatkan dari al-Miqdam radhiallahu `anhu, ia berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Makanan yang kamu berikan
kepada dirimu, maka itu sedekah untukmu; dan makanan yang kamu berikan
kepada isterimu, maka itu sedekah untukmu; dan makanan yang kamu berikan
untuk pelayanmu, maka itu sedekah untukmu.” (Shahih Ibn Majah, 1739)
Janganlah bersedih, lihatlah bagaimana Allah subhanahu wata’aala
mengaruniaimu dua kali nikmat:
a.. Pertama, Saat Dia menganugerahimu keluarga yang bisa jadi Dia tidak
menganugerahkannya kepada orang lain. Dia telah berkenan mengaruniaimu
keturunan, namun tidak memberikannya kepada orang lain. Dia berkenan
memberikanmu anak, namun tidak memberikannya kepada orang lain. Renungkan
apa yang diberikan-Nya kepada Rasul-Nya tentang hal itu, (artinya) “Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami
memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan…” (QS.ar-Ra’d:38)
Nikmat mendapatkan anak merupakan nikmat yang besar, yang wajib disyukuri
dan untuk melakukannya dituntut suatu perjuangan. Dan ini baru dalam satu
nikmat yang faedahnya tidak terhingga banyaknya.
b.. Kedua, saat Dia menjadikan tanggung jawabmu atas anak-anak dan jihadmu
dalam mendidik dan menumbuhkembangkan mereka sebagai salah satu pintu
kebaikan bagimu di akhirat kelak, saat dan tempat Dia mengampunimu dan
menambahkan pahala bagimu karenanya.
Anak Perempuan dan Pahala Besar
Masih saja ada wajah-wajah yang kecewa, cemberut, dan murung manakala
mengetahui anak yang barusan lahir dari perut isterinya berkelamin perempuan
padahal sejak awal, Islam telah mengharamkan kebiasaan mengubur hidup-hidup
anak-anak perempuan yang dilakukan pada masa Jahiliah, dan mewajibkan
berbuat baik kepada mereka. Hal ini tampak jelas dalam firman Allah
subhanahu wata’aala, (artinya) “Dan apabila seseorang dari mereka diberi
kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya,
dan dia sangat marah.”(QS.an-Nahl:58),
Qatadah berkata, “Ini adalah perangai orang-orang Musyrikin Arab, dan Allah
subhanahu wata’aala memberitahukan kepadamu kebusukannya. Adapun seorang
Mukmin, maka ia sungguh rela dengan apa yang telah diberikan Allah subhanahu
wata’aala kepadanya. Dan apa yang ditakdirkan baginya adalah lebih baik dari
diri seseorang. Sungguh, aku tidak tahu, apa itu kebaikannya? Sungguh,
betapa banyak bocah perempuan adalah lebih baik bagi keluarganya daripada
bocah laki-laki. Bila Allah subhanahu wata’aala memberitakan kepadamu
perangai mereka itu (orang-orang Musyrikin), maka hendaklah kamu jauhi dan
berhenti darinya. Dulu, salah seorang dari mereka sudi memberi makan
anjingnya namun tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya.”
Orang yang bersedih karena kelahiran bayi perempuannya adalah orang yang
tidak memahami bahwa Sang Pemberi anak laki-laki dan perempuan itu adalah
Allah subhanahu wata’aala. Dia berfirman, “Dia menciptakan apa yang Dia
kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia
kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.
Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa
yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS.asy-Syuro:49-50) Para
ulama berkata, “Allah subhanahu wata’aala mengedepankan penyebutan perempuan
atas laki-laki untuk memberikan karunia kepadanya (Perempuan). Karenanya,
Dia memulai penyebutan diri perempuan sebelum laki-laki.”
Mengenai betapa besar pahala yang diberikan kepada orangtua yang dianugerahi
anak-anak perempuan, simak hadits yang diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir
al-Juhani radhiallahu `anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah
shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Siapa saja yang memiliki tiga orang
puteri, lalu bersabar, memberi makan, memberi minum dan memberi pakaian
mereka dari hartanya, maka mereka kelak akan menjadi penghalang (tameng)
baginya dari sentuhan api neraka.” (Shahih al-Jami’:534) Dalam hadits lain
yang mirip dengan itu disebutkan, bahwa bukan hanya bagi yang memiliki tiga
orang anak perempuan, bahkan seorang anak perempuan pun, bilamana ia
memberikan tempat tinggal, mengasihi dan menanggung mereka, maka dipastikan
ia masuk surga. (HR.Ahmad)
Berbahagialah karena mendapatkan rizki berupa anak-anak, yang merupakan
kebaikan-kebaikan bagimu kelak setelah meninggalkan dunia yang fana ini.
Bila kamu memberikan pendidikan yang baik kepada mereka, niscaya mereka akan
menjadi anak-anak yang shalih lagi beriman. Rasulullah shallallahu ‘alahi
wasallam bersabda, “Bila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya
kecuali dari tiga hal: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, atau anak
shalih yang berdoa untuknya.” (HR. Muslim).
Semoga kita tidak menyia-nyiakan peluang yang teramat berharga ini.
(SUMBER: “Ila Shahib al-’Iyal”, Divisi Ilmiah Pada Penerbit Dar Ibn
Khuzaimah, Riyadh), Abu Shofiyyah )
Netter Al-Sofwa yang dimuliakan Allah Ta’ala, Menyampaikan Kebenaran adalah
kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah
dengan menyampaikan Artikel ini kepada saudara-saudara kita yang belum
mengetahuinya.
Semoga Allah Ta’ala Membalas ‘Amal Ibadah Kita. Aamiin
Waassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
———————————————————————
YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810
Jakarta Selatan – Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326.
e-mail: info@…, webmaster@…, admin@…
| Perlunya Meningkatkan Pendidikan Akhlaq dalam Keluarga | ![]() |
![]() |
|
Pendidikan akhlak dalam keluarga sangat penting dilakukan agar tercipta generasi muda yang berakhlakul karimah. Sayangnya banyak keluarga muslim yang tidak memiliki patokan dasar untuk moralitasnya. Padahal kita semestinya meneladani akhlak Rasulullah yang banyak sekali kita temui dalam perjalanan beliau membina rumah tangga dan mendidik keturunan dan masyarakatnya.
Salah satu contoh bagaimana Rasulullah saw memperlakukan anak-anak dengan lemah lembut. Ada sebuah riwayat, seorang anak lelaki digendong oleh Nabi dan anak itu pipis, lantas ibunya langsung merebut anaknya itu dengan kasar. Nabi kemudian bersabda, “Hai, bajuku ini bisa dibersihkan oleh air, tetapi hati seorang anak siapa yang bisa membersihkan”. Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi berkata, “Jangan, biarkan ia kencing”. Peristiwa ini kemudian memunculkan sebuah ketentuan fiqh, bahwa bila anak laki-laki kencing cukup dibasuh, sedangkan bila anak perempuan dicuci dengan sabun. Riwayat tadi memberi pelajaran bahwa sikap kasar terhadap seorang anak dapat mempengaruhi jiwanya sampai kelak ia dewasa.Namun sisi lain, ada satu hal di mana Nabi sangat hati-hati dalam persoalan anak. Ketika Nabi tengah berada di dalam masjid, ada orang yang kirim kurma, kemudian cucunya datang dan mengambil sebuah kurma lalu dimakannya. Nabi bertanya kepada ibunya, “Ini anak tadi mengambil kurma dari mana?” Sampai akhirnya, dipanggilnya Saidina Hasan dan dicongkel kurma dari mulutnya. Ini maknanya apa? Nabi tidak mau anak cucunya itu memakan sesuatu yang haram, walaupun ia masih kecil dan tidak ada dosa baginya, karena itu akan memberikan pengaruh kepadanya kelak ia besar.
Sebuah cerita datang dari pengalaman seorang ibu yang pendidikannya hanya sampai SD dan memiliki 13 anak, tetapi semuanya berhasil. Suatu ketika, ada orang yang bertanya kepada si ibu itu, “Doa apa yang dipakai ibu sehingga semuanya berhasil?” Jawabnya, “Saya dan suami saya tidak banyak berdoa. Tapi, bila anak saya bersalah atau saya tidak senang perbuatannya, saya selalu berkata, “Mudah-mudahan Tuhan memberimu petunjuk”. Jadi, anak ini tidak dimaki, dikutuk, atau dimarahi. Dan, kami kedua orang tuanya tidak pernah memberi makan mereka dengan makanan yang haram”. Empat faktor Sabda Rasulullah saw: “Orang yang paling baik di antara kamu adalah yang paling penyayang kepada keluarganya.” Berarti Beliau saw mengajarkan kepada kita untuk menyangi keluarga, termasuk anak di dalamnya. Beliau saw dalam hal ini mengajarkan kepada kita untuk memenuhi hak anak terhadap kasih sayang. Rasulullah saw juga mengajarkan untuk mengungkapkan kasih sayang tidak hanya secara verbal, tetapi juga dengan perbuatan. Pada suatu hari Umar menemukan beliau saw merangkak di atas tanah, sementara dua orang anak kecil berada di atas punggungnya. Umar berkata:”Hai anak, alangkah baiknya rupa tungganganmu itu.” Yang ditunggangi menjawab:”Alangkah baiknya rupa para penunggangnya”. Di sini, terlihat betapa indah susasana penuh kasih sayang antara Rasul saw dengan cucu-cucu beliau. Menurut pakar pendidikan, Dorothy Law Nolte:”Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.” Bila orang tua gagal mengungkapkan rasa sayang pada anak-anaknya, anak-anak tersebut tak akan mampu menyatakan sayangnya kepada orang lain. Dalam ajaran agama juta kita bisa meniru betapa Rasulullah juga mengajarkan betapa besarnya tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak. Sabdanya saw:”Tidaklah seorang anak yang lahir itu kecuali dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.”(HR Muslim). Yang pertama diperoleh anak dalam hal belajar adalah di dalam keluarga, kemudian ia mendapatkannya dalam suasana sekolah dan masyrakat. Karena itulah dalam keluarga merupakan fondasi pendidikan anak selanjutnya. Dan karena Mendidik anak adalah tanggung jawab bersama antara ibu dan ayah, maka sehingga diperlukan pasangan yang seaqidah, dan sepemahaman dalam pendidikan anak. Jika tidak demikian tentunya sulit mencapai tujuan pendidikan anak dalam keluarga. Dalam masalah akidah dan keyakinan, anak pertama kali mendapatkan pengajaran nilai-nilai tauhid dari kedua orang tuanya, demikian juga mengenai ajaran-ajaran Islam yang lain. Anak mendapatkan pendidikan yang lebih banyak berupa contoh (teladan) dari kedua orang tuanya, di samping pendidikan dalam bentuk lisan, pembiasaan dan pemberian sanksi. Sumber:
|



